MELAYAT ORANG MATI: Pahala Doa Sampaikah Padanya?

Foto jenazah sebelum dishalatkan

Sebagai seorang muslim aku diajarkan untuk menjenguk orang sakit dan silaturahim kerumah orang yang tertimpa musibah hal itu tidak hanya diajarkan oleh Islam, melainkan bagian yang erat dari nilai-nilai pancasila yang sudah ditetapkan sebagai ideologi negara ini.

Hanya penghianat negaralah yang selalu kuar-kuar bahwasannya pancasila bertentangan dengan ajaran Islam. mereka yang selalu bersuara demikian tidak lain merupakan perusuh yang berlindung dari kalimat Tuhan, mereka tak layak berada di negara ini. 

Belum kulanjut tulisan itu, tiba-tiba terdengar kabar, jika tetangga rumah ada yang meninggal, tentu sebagai warga negara dan muslim yang ingin memperbaiki diri saya lebih memilih datang ke rumah duka dari pada melainjutkan tulisan yang baru dapat satu paragraf tersebut. 

Sesampainya di lokasi tanganku dijabat oleh keluarga duka hal ini menyimbolkan bahwasannya orang Indonesia memang selalu ramah pada sesama, jika ada orang yang selalu menggunjing dan berlaku kasar patut kita pertanyakan keindonesiaanya. 

Akupun duduk dan menemani keluarga korban membacakan surat yasin disamping jenazah, sembari menunggu para kiai dan ustad untuk menyolatkan jenazah tersebut, aku tak mau tahu apakah bacaan Al-Qur’an sampai pada yang meninggal atau tidak. 

Intinya saya melakukan itu karena sebagai manusia, Tuhan selalu menuntut untuk berbuat baik. Tak lama kemudian rombongan kiai dan para ustad datang. berhubung terdapat satu ustad yang belum datang kita terpaksa menunggunya.

Dikala menunggu, kiai sepuh menyampain beberapa nasehat kepada keluarga korban dan para ustad yang sedang duduk di mushalla. 

Beliau menyampaikan bahwasannya kewajiban seorang anak adalah berbakti kepada orang tua, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Bakti kepada orang tua yang sudah meninggal dengan memberikan sedekah yang diniatkan untuk mereka. “Sedekah dan bacaan Al-Qur’an yang kita kirim akan sampai pada mereka”. 

Mendengar kalimat tesebut, saya  teringat dengan ceramah kiai NU yang kondang tentang tahlilan dan doa untuk orang yang meninggal. Kurang lebih penyampaiannya seperti ini.

Tahlilan dan doa yang dihadiahi kepada orang yang meninggal itu sampai. Walaupun ada golongan yang mengatakan tidak, bahkan ada yang mengatakan itu bid’ah. Golongan tersebut selalu mempertanyakan dalilnya mana?

Dari sahabat Ma’qal bin yasar r.a. Bahwa Rasulullah SAW bersabda : Surat yasin adalah pokok dari Al-Qur’an, tidak dibaca oleh seorang yang mengharap ridha Allah kecuali diampuni dosanya. bacakanlah surat yasin pada orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian (H.R. Abu Dawud, dll)

Iam Syafi’i juga berpendapat bahwa disunnahkan membacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada mayat, dan jika sampai khatam maka akan lebih baik. bahkan Imam Nawawi dalam kitab Majmu’-nya tidak hanya tahlil dan doa , tetapi disunnahkan bagi orang yang ziarah kubur untuk membaca ayat-ayat al-Qur’an lalu setelahnya diiringi berdoa untuk mayat.

Begitu juga dengan Imam al-Qurthubi memberikan penjelasan bahwa, dalil yang dijadikan acuan oleh ulama tentang sampainya pahala kepada mayat adalah bahwa, Rasulullah pernah membelah pelapah kurma untuk ditancapkan di atas kubur dua sahabatnya sembari bersabda “Semoga ini dapat meringankan keduanya di alam kubur sebelum pelapah ini menjadi kering”. 

Imam al-Qurthubi kemudian berpendapat, jika pelapah kurma dapat meringankan beban mayat bagaimanakah dengan bacaan ayat-ayat al-Qur’an dari keluarga dan teman-temannya, tentu saja bacaan-bacaan al-Qur’an dan lain-lainnya lebih bermanfaat bagi si mayat.

Kemudian sang kiai tersebut menutup dengan pendapat Abul Wahid Ibnu Rusyd yang mengatakan seorang yang membaca ayat al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada mayat, maka pahala tersebut bisa sampai kepada mayat tersebut.

Jujur aku tak peduli pahala itu sampai atau tidak pada yang meninngal karena menurut saya, yang tahu kepastiannya hanya Tuhan dan orang yang meninggal itu sendiri. perbedaan pendapat akan terasa indah ketika kita saling menghargai dan tidak suka membid’ahkan bahkan mengkafirkan golongan lainnya. 

Usai jenazah dimakamkan, saya pulang. sesampainya dirumah istri saya mengajukan sebuah pertanyaan yang mungkin tidak terfikirkan olehku sebelumnya. 

“Mas, Kenapa orang-orang tadi ada yang berjalan di bawah beranda mayat sebelum jenazah diberangkatkan? Untungnya aku pernah mendengar cerita itu. Akupun ceritakan tradisi itu kepadanya

Tradisi itu oleh orang jawa terdahulu dinamakan brobosan, yang merupakan ritual yang dilakukan oleh masyarakat jawa dan sekitarnya ketika ada kerabat yang meninggal. 

Brobosan dilakukan dengan cara berjalan di bawah keranda mayat yang sedang diangkat tinggi-tinggi. dan biasanya orang yang melakukan brobosan adalah anak, cucu atau kerabat dekat dari orang yang meninggal. 

Ritual itu memiliki dua tujuan. Pertama, menghormati orang yang meninggal. kedua, untuk mendapatkan tuah dari jenazah. terlebih orang yang meninggal adalah orang yang memiliki umur panjang. 

Orang dahulu hingga sekarang bayak yang mempercayai jika hal itu juga mempengaruhi umur para saudaranya. 

sedangkan jika orang yang meninggal memiliki ilmu yang tinggi, maka ilmunya dipercaya akan menurun pada orang  menerobos dibawahnya.  

Ritual itu biasanya tidak dilakukan pada jenazah anak, karena dihawatirkan akan tertular nasib yang sama. 

Usai menjelaskan panjang lebar, aku tak tahu istriku faham atau tidak. Bagiku yang terpenting sudah menjalankan tugasku dengan baik. 

Menurutku itu merupakan pengalaman yang sangat penting, oleh karenanya tidak ku biarkan lepas begitu saja. 

kuambil laptop dan ku biarkan otak dan jemari saling bekerja sama menyusun kata demi kata, kalimat demi kalimat hingga jadilah tulisan seperti yang anda baca ini.


-Bung Darsam-