PENGARUH PEMIKIRAN SOEKARNO BAGI WARGA INDONESIA

Misteri terkait petani kemarin belum juga terselesaikan, memang permasalahan yang dihadapi seorang petani tradisional sangatlah pelik. Maklumlah jangankan menyampaikan keluhannya, menatap orang berdasi dan bersepatu saja mereka sudah gemetar, layaknya anak kecil yang terlalu lama hujan-hujanan hehe...

Aku terlalu serius memikirkan nasib petani di desa ini, tapi untungnya masih enak makan, tak seperti sepasang kekasih yang harus berpisah karena restu orang tua. Walau tak seberat itu dalam fikiran, tapi masalah petani merupakan masalah sosial yang akan dirasakan oleh semua kalangan. 

Hari ini aku menbaca sebuah buku karya Cindy Adam yang berjudul “Sukarno An Autobiography” yang diterjemahkan Syamsu Hadi  ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “BUNG KARNO Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” Sebenarnya dulu saya pernah membaca buku ini. Tapi entah kenapa sekarang ingin sekali membacanya kembali. Memang sosok Soekarno tidak pernah luntur di hati orang Indonesia. 

Membaca akan terasa nikmat jika ditemani secangkir kopi, tapi sayang aku bukan lelaki perokok. Rokok? haha terlalu banyak penafsiran terkait hukumnya. Makanya aku tak suka, mayoritas mengatakan haram adapula yang mengatakan makruh, ah, sudahlah intinya untuk rokok saya lebih sepakat dengan ulama yang menghukumi haram,

Buku mulai ku baca, lembar demi lembar kubuka. sampailah pada bagian kedua yang menceritakan Soekarno sebagai putra sang fajar, ternyata diri ini memiliki kesamaan dengan Soekarno sama-sama dilahirkan dikala fajar menyingsing. dalam buku ini dikisahkan jika seseorang yang dilahirkan menjelang matahari terbit memiliki keutamaan tersendiri. kurang lebih kisahnya seperti ini

di pagi hari soekarno kecil dan ibunya sedang berada diberanda rumahnya, sambil lalu memandang ke arah timur sembari menunggu datangnya fajar. kemudian sang ibu memeluk soekarno sembari berkata “Anakku, engkau sedang memandangi matahari terbit, dan engkau anakku, kelak akan menjadi orang mulia, pemimpin besar dari rakyatmu karena ibu melahirkanmu di saat fajar menyingsing. kita orang jawa memiliki kepercayaan, bahwa seorang yang dilahirkan di waktu matahari terbit, nasibnya telah digariskan sebelumnya, jangan sekali-kali kau lupakan nak, jika engkau adalah putra sang fajar.”

Nasihat itu saya rasa tidak hanya tertuju pada Seokarno, melainkan untuk semua anak Indonesia khususnya yang terkahir di waktu tersebut termasuk diriku, semoga saja keberuntungan dan semangat sosok Soekarno bisa kuserap, sehingga diri ini bisa berbuat banyak kepada Masyarakat khususnya masyarakat di sekitarku ini.

Nampaknya Aku terlalu asyik membaca hingga kopi di sampingku sudah mulai dingin, iya begitulah diri ini ketika sudah bersetubuh dengan buku, lupa semuanya hehe. tak terasa sudah sekitar 73 halaman ku baca. Pada bagian ke 6 menceritakan seorang soekarno yang  mencetuskan sebuah hasil renungannya yang sudah sekian lama menghantui fikirannya. Ia pada usia 20 tahun mulai mencetuskan sebuah pemikiran yang kita kenal dengan sebutan marhaenisme. Ideologi ini  yang kemudian dianut oleh salah satu organisasi mahasiswa yang ada di Indonesia ini yakni GMNI.

Hal yang menarik dari bagian ini adalah bagaimana sosok Bung Karno ketika menggali pemikiran tersebut. Semuanya dikisahkan seperti ini.

Pada suatu pagi, Seokarno bolos dari kuliahnya, ia lebih memilih bersepeda tanpa memiliki tujuan yang jelas. Hingga akhirnya ia sampai di bagian selatan kota Bandung, yang merupakan daerah pertanian yang padat. Kemudian ia menghampiri salah satu petani lalu menanyakan “Siapakah yang memiliki tanah yang kau garap ini?”

Dia menjawab “Saya, Juragan”

“Apakah engkau memiliki tanah ini bersaama-sama dengan orang lain?

“O, tidak juragan saya memilikinya sendiri”

Soekarno terus bertanya semua peralatan yang digunakan petani, dan ia tetap menjawab itu semua adalah miliknya sendiri.

Namun ketika sang petani ditanya, apakah hasilnya cukup untuk kebutuhanmu?

petani itu hanya mengangkat bahunya sebagai bentuk kekecewaannya. Mana mungkin sawah sekecil itu bisa mencukupi kebutuhan istri dan keempat anaknya. Kemudian Soekarno bertanya panjang lebar kepada petani tersebut, petani itu menjawab jika hasil panenya tidak dijual, dia tidak mempekerjakan orang karena tidak bisa membayarnya, bahkan petani sendiri tidak pernah bekerja untuk orang lain. kemudian ia mengakui jika gubuk di pinggir sawahnya adalah miliknya sendiri. 

Terakhir Soekarno bertanya siapa namamu? Ia menjawab Marhaen. dari nama itu kemudian Ia menyebut semua orang Indonesia yang bernasib malang dengan sebutan Marhaen. Marhaen tidak hanya kaum petani melainkan semua kalangan yang ditindas oleh sistem feodal. Lantas apa itu marhaenisme? Marhaenisme adalah sosialisme yang di Indonesiakan

Usai membaca bagian keenam tersebut, saya menutup buku, kemudian merenungi pemikiran soekarno tersebut. Banyak sekali marhaen-marhaen di sekitar kita ini, pemuda yang kesulitan mendapat pekerjaan, petani yang berperang dengan parasit yang mengganggu tanamanya, rakyat miskin yang tidak mendapatkan sentuhan dari pemerintah dikarenakan bantuan pemerintah tidak tepat sasaran, mahasiswa yang harus membayar uang kuliah tetapi tidak mendapatkan fasilitas yang memadahi dan lain sebagainya.

Semua itu kutulis dalam catatan ini sembari berharap akan hadir seorang marhaenis yang akan memperjuangkan hak rakyat kecil. Siapakah yang kau harapkan? Siapa lagi kalau buka para pejabat yang lebih memihak pada rakyatnya bukan kantongnya dan para insan akademis yang siap membela rakyat kecil bukan hanya sibuk onani dengan isi otaknya. 


-Bung Darsam-