Petani Rugi Karena Tikus Atau Kurang Perhatian Pemerintah?

Semua terasa membingungkan, hingga apa yang akan kulakukan sedikitpun tak terfikirkan. tubuh ini sudah capek bergulat dengan bantal kasur dan guling, aku mencoba mengambil secarik kertas lalu ku jadwal kegiatan harianku, maklumlah hidup di era sekarang harus serba teratur. dan sekarang adalah waktunya saya menulis, tetapi kali ini aku kesulitan menemukan ide, hingga akhirnyanku tertarik menulis pertemuanku dengan seorang petani di desaku, kurang lebih seperti ini ceritanya

Waktu itu saya sedang duduk di tepi jalan, kemudian datang seorang yang keliatan kusut dan raut wajahnya begitu murung, aku tak mau menafsirkan apa yang sedang dirasakan oleh ibu tersebut, Tak tahunya ibu itu duduk di sampingku, sembari menyapa “nunggu siapa cong” jawabanku tidak penting, karena aku yakin ibu itu tidak sunguh-sungguh menayakannya tetapi mau tak mau harus ku jawab, kemudian kubalik bertanya “dari sawah bu?” dia tidak hanya menjawab tapi malah curhat panjang lebar. kalau saya tulis semua curhatannya mungkin butuh waktu yang cukup melelahkan jemari ini. kesimpulannya seperti ini.

Dia mengeluhkan hasil panennya yang makin lama makin menurun, jika dahulu dia dapat jagung sebanyak tiga mobil pikap sekarang malah dapat dua mobil pikap saja. dia juga cerita jika semua itu berawal dari banyaknya tikus-tilus yang ada di sawahnya. wah ternyata tikuspun tak mau kalah dengan tikus kantor yang selalu meresahkan para petani. dia sudah mencoba mengusirnya bahkan sampai meracunnya tapi tidak mempan. kasian benar nasibmu bu (ucapku dalam hati). padahal petani merupakan pahlawan pangan negara, tanpa petani tak akan guna mobil mewah jika perut terus teriak lapar. 

Oleh karenanya sudah seharusnya petani mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah, banyak sekali masalah di dunia pertanian lebih-lebih populasinya sekarang yang semakin menurun. bicara soal pemerintah bagaimana menurutmu peran BPP (Balai Penyuluh Pertanian) dan Dinas Pertanian di daerah kita ini? saya pribadi tidak punya kapasitas menjawab pertanyaan itu, tetapi jika anda memaksanya saya akan mencobanya.

BPP merupakan lembaga penyuluhan pemerintah yang mempuyai tugas dan fungsi penyuluhan pertanian pada tingkat kecamatan yang dipimpin oleh seorang koordinator, yang berkedudukan dibawah dan bertanggung jawab pada Kepala Dinas Pertanian. Terus bagaimana kinerjanya mereka? Yah tentu saja patut kita pertanyakan, buktinya petani banyak yang mengeluhkan hama tikus, tapi belum hadir memberikan solusi., Wah mungkin itu hanya prasangkamu saja? Iya semoga saja begitu.

Bisa jadi mereka sudah punya solusi tetapi tidak tahu kalau dibawah mengeluhkan hal itu. di sinilah tugasnya para kelompok tani atau masyarakat umum melapor dan meminta bantuan kepada mereka, memangnya melapornya kemana? itu saja kamu pertanyakan, jelaslah ke kantornya. memang punya kantor? adasih di kecamatan meskipun kurang terawat, dari pada tidak ada sama sekali, hehe... 

Kalau menurutmu mengapa Keresahan itu dirasakan petani?

Hal itu terjadi karena banyak faktor di antaranya, kelompok tani yang tidak aktif dan terkesan musiman, jika kita bicara kelompok seharus memiliki managemen kelompok, dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga evaluasi. sedangkan yang terjadi, jika ada bantuan dari pemerintah mereka baru berkumpul jika tidak ada, jangankan kumpul nyapapun syukur. Kenapa begitu? bisa jadi karena mereka dibentuknya secara sembunyi-sembunyi alias tidak diketahui orang atau bahkan orangnya saja tidak tahu hehe.

Yang kedua bisa jadi karena pemerintah terkait tidak blusukan langsung kebawah sehingga tidak tahu kondisi petani seperti apa, saya berharap melalui tulisan ini mereka yang bekerjanya berkaitan dengan pertanian, tidak banyak duduk manis di kantor melainkan turun langsung kepetani. masak membawahi petani sibuknya di kantor? bukankah begitu? atau mungkin saja terdapat faktor lain yang belum tersampaikan?

Begitulah akhir dari tulisan yang ku buat hari ini, Jujur saja, dalam benak ini masih bertanya-tanya, petani merugi murni karena tikus atau kurang perhatian pemerintah?

-Bung Darsam-