Nasehat Hidup : Jadilah Pendengar Yang Baik Seperti Halnya Gelas Kosong

Mendengarkan merupakan seni terbaik dalam hidup. keterampilan mendengarkan terkadang jauh lebih sulit dari pada hanya berbicara.

Karena kesulitannya saya tertarik membuat sebuah tulisan terkait seni mendengarkan, yang patut kita pelajari untuk hidup yang lebih baik.

Tulisan yang saya buat berjudul Jadilah kelas kosong adapun tulisan secara lengkapnya sebagai berikut:

 

Ilustrasi pendengar yang baik

Jadilah Gelas Kosong

Di sebuah seminar salah satu dari pemateri membuka pembicaraannya dengan sebuah analogi gelas, di antaranya gelas kosong yang tertutup, gelas yang bocor, gelas kosong tetapi kelihatan penuh, yang selanjutnya gelas kosong yang terbuka. Dalam penyampaiannya kurang lebih seperti ini

Pertama, gelas kosong yang tertutup merupakan ciri dari seorang yang dirinya tidak mengetahui apa-apa namun enggan untuk mendengarkan nasihat, jika dalam kehidupan di sekitar kita orang tersebut sebenarnya bodoh dan sadar akan kebodohannya namun enggan untuk belajar membenah dirinya menjadi lebih baik. 

Inilah ciri dari orang yang tidak ingin dalam hidupnya terjadi sebuah perubahan besar, mereka puas dengan kemampuan yang sebanarnya tidak memuaskan.

Kedua, gelas yang bocor. Gelas bocor menganalogikan orang yang mendengarkan nasihat, hanya menggunakan telinganya tidak dengan hatinya alias masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Apakah anda termasuk kategori orang seperti ini? 

Ketika orang tua, guru, dosen anda menyampaikan sebuah kebaikan namun anda hanya mendengarkan tanpa ada rasa ingin mengikuti. Seperti apapun air yang dimasukkan jika kita memposisikan sebagai gelas bocor maka tidak akan ada ceritanya gelas kita akan terisi oleh air.

Ketiga, gelas kosong yang kelihatan penuh, analogi ketiga ini merupakan sikap orang yang paling parah. Mereka pada dasarnya tidak memiliki pengetahuan apa-apa namun merasa  dirinya pintar, orang seperti ini bukan lagi tidak mendengarkan nasihat tetapi malah ngajak berdebat orang yang menasehatinya karena merasa dirinya orang yang paling benar, menasehati atau berbicara dengan orang seperti ini hanya menghabiskan energi kita, tidak ada tindakan paling baik, kecuali mendoakan semoga di buka pintu hatinya.

Terakhir analogi gelas kosong yang terbuka, orang dengan tipe ini sangat dianjurkan, mereka selalu merasa jika dirinya sangat bodoh meski sebenarnya tidak. Mereka selalu ingin mendengarkan orang lain menyampaikan informasi yang ia sudah ketahui atau belum pernah diketahuinya. 

Orang ini selalu ingin maju, Ia tidak melihat siapa yang berbicara tetapi apa yang dibicarakan, berbicara dengan orang seperti ini sangatlah menyenangkan karena ia akan menghargai pendapat kita dengan baik meski itu benar atau salah.

Jadilah anda seperti gelas kosong yang terbuka ini, tetaplah rendah hati dan selalu ingin belajar, tetaplah menjadi pendengar yang bijak karena semakin baik kita mendengarkan nasihat, maka akan semakin mudah kita mengembangkan kemampuan yang kita miliki. 

Ketidak mampuan seseorang mendengarkan sebenarnya ia sudah mengurung potensi yang dimilikinya. Jika anda masih bertanya alasan kenapa kita harus mendengarkan? 

Maka jawabanya sangat sederhana setiap orang sebenarnya ingin dan senang jika pembicaraannya didengar. Bukankah anda juga demikian?

Kemampuan mendengarkan merupakan  kualitas terbaik kita dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar.  

Semakin pandai anda mendengarkan maka semakin banyak ilmu yang tertuang untuk anda. Tahukah anda, panghargaan terbaik kita terkadang berupa aktivitas mendengarkan. 

Coba ketika anda sedang banyak masalah siapakah orang yang pertama kali anda cari untuk berbagi? Siapapun jawabannya pasti mereka adalah orang yang mau mendengarkan permasalahan anda.

Sungguh sangat tidak logis ada orang betah duduk berlama-lama dengan orang yang tidak mampu menjadi pendengar yang baik. Makanya teruslah latih dan asah kemampuan mendengr anda.

Bagaimana caranya supaya bisa mengetahui jika saya merupakan pendengar yang baik atau kurang baik? Silahkan anda jawab “Iya” atau “Tidak” pertanyaan berikut ini:

1. Apakah anda suka menginterupsi orang yang sedang berbicara pada anda?

2. Apakah anda melihat kemana-mana saat berbicara dengan orang lain?

3. Apakah anda menyimpulkan sesuatu dengan sangat cepat?

4. Apkah ketika orang lain berbicara, Bahasa tubuh anda menunjukkan ketidak tertrikan?

5. Apakah anda kurang sabar ketika orang lain sedang bercerita?

6. Apakah anda hanya mendengar Sesutu yang ingin anda dengar saja?

7. Apakah anda lebih fokus pada sanggahan yang akan anda sampaikan dari pada orang yang sedang berbicara?

8. Apakah anda lebih banyak berbicara dari pada mendengarkan?

Jika jawaban anda “Iya” maka kualitas mendengar anda harus diasah kembali. Silahkan anda intropeksi diri terlebih dahulu kemudin kembangkan aktivitas mendengar anda.

Mendengarkan merupaka syarat utama untuk mentransformasikan ilmu, semakin baik anda mendengar maka semakin banyak anda mendapatkan wawasan. Namun sayang tidak semua orang mampu menjadi pendengar yang baik. 

Karena mendengar merupakan keterampilan yang sangat hebat yang dimiliki oleh manusia dan hanya orang yang memiliki kulitas tinggilah yang mampu menjadi pendengar yang baik.

Mulai hari ini mari kita komitmen pada diri sendiri untuk lebih banyak mendengar dan sedikit berbicara karena semakin banyak kit berbicara maka semakin banyak kemungkinan kita berbohong. Tetap jadilah gelas kosong yang selalu siap di isi dengan air kesejukan.