Penyebab Carok Pilkades Di Madura Yang Harus Dihindari

 Penyebab carok pilkades - Pesta demokrasi di desa atau yang biasa kita kenal dengan pilkades bertujuan untuk memilih kepala desa baru. Dalam prosesnya pilkades terbukti menyebabkan renggangnya hubungan masyarakat bahkan yang paling ekstrim terjadi carok.

Carok sangat identik dengan Madura. Masyarakat Madura selain religius, sopan juga dikenal sebagai orang yang memegang prinsip yang tegas.

Carok bermula pada zaman penjajahan Belanda tepatnya pada abad 18 M. Dahulu celurit digunakan oleh Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata pada penjajah Belanda.

Namun bagi belanda celurit merupakan senjata yang digunakan oleh orang jagoan dan penjahat. anggapan tersebut kemudian mempengaruhi masyarakat madura hingga saat ini. Jadi orang yang pernah carok dan menang, mereka dianggap sebagai oreng jago.

Baca juga: Atasi Carok Pilkades dengan Merubah Desa Menjadi Kelurahan

Sekilas Tentang Carok

Penyebab Carok Pilkades Di Madura
Penyebab Carok Pilkades

Sebelum kita membahas penyebab carok pada proses pilkades di Madura, alangkah lebih baiknya kita mengenal terlebih dahulu terkait carok.

Pengertian Carok

Carok adalah bagian dari tindak kekersan yang berasal dari pulau Madura. Carok merupakan bentuk perkelahian antar dua orang atau lebih dengan menggunakan senjata tajam karena alasan tertentu.

Jika perkelahian yang dilakukan tidak menggunakan senjata tajam maka di sebut dengan tokar, akeket.

Senjata tajam yang digunakan dalam carok berupa celurit. Di Madura terdapat banyak jenis celurit yang di gunakan untuk carok, seperti hanya berikut ini:

 Are' tabuwan

Dang-osok

Tekos bu-ambu

Lancor

Bulu ajem

Kembang turi

Monteng

Sekken

Ladding pangabisan

Calo

Biris

Koner

Larkang

Tombak

Orang madura sebenarnya identik dengan sopan santun karena memang masyarakatnya religius, karena kesopan santunannya orang madura banyak disegani.

Jika ada orang yang berbuat baik kepada orang madura maka akan dibalas dengan lebih baik. Namun jika harga diri orang madura di injak-injak maka tidak akan menutup kemungkinan orang madura akan berbuat lebih kejam.

Hal itu selaras dengan adagium masyarakat madura yang sampai sekarang mendarah daging, "ango'an poteya tolong etembheng pote mata" (lebih baik putih tulang dari pada putih mata) yang berarti lebih baik mati dari pada malu.

Baca juga: Strategi Menang Pilkades Tanpa Uang 100% Berhasil Di Madura

Faktor Penyebab Carok Pada Umumnya

Carok merupakan tindak kekerasan yang membudaya di madura hal ini biasanya disebabkan oleh pelecehan harga diri orang madura. untuk lebih jelasnya ini penyebab terjadinya carok di madura:

1. Pelecehan Harga Diri

Harga diri bagi orang madura adalah sesuatu yang harus di junjung tinggi. Jika ada orang yang melecehkannya mereka tidak akan segan membalasnya dengan perbuatan yang lebih kejam.

2. Perebutan Harta Warisan

Carok yang disebabkan oleh perebutan harta warisan terjadi antar sanak keluarga.  Biasanya hal ini bermula dari perebutan harta yang ditinggalka oleh orang yang lebih tua. Jika pembagiannya tidak adil dan salah satu saudara tidak meu ngalah maka besar kemungkinan akan terjadi carok.

3. Pembalasan Dendam

Balas dendam merupakan tindakan pembalasan terhadap perbuatan jahat yang dilakukan oleh orang lain pada dirinya.

Seperti yang telah kita sebutkan jika orang madura sangat menjungjung harga diri dan keluarganya. Jadi, jika salah satunya mendapatkan perlakuan tidak baik dan dirasa merugikan, maka orang madura akan menuntut balas pada orang tersebut.

Penyebab ini juga memicu terjadinya carok berantai karena keluarga yang kalah akan menuntut balas pada yang menang dan begitu seterusnya.

Penyebab terjadinya Carok Pada Pilkades

Penyebab Carok Pilkades Madura

1. Ambisus berlebihan

Sesuatu yang berlebihan memang tidaklah baik. apalagi memiliki ambisi yang berlebihan pada jabatan kepala desa.

Seseorang yang memiliki ambisi yang berlebihan biasanya menghalalkan segala cara untuk menang pilkades. Seperti, mencoba membatalkan penghitungan suara karena dirasa akan kalah. 

Atau dengan cara menyewa orang luar untuk mencoblos menggunakan hak suara orang yang tidak bisa hadir dari pendukungnya, dan tindakan lainnya.

Tentu saja perbuatan tersebut akan merugikan calon dan tim sukses lawan. Karena merasa di curangi dan harga diri kelompoknya di injak-injak maka besar kemungkinan akan terjadi carok.

Selain itu orang yang memiliki ambisi yang berlebihan biasanya tidak bisa menerima kekalahan. Tentu sikap ini bukanlah sikap seorang satria.

2. Panitia Pilkades Yang Tidak Netral

Pebab selanjutnya adalah sikap panitia pilkades yang tidak netral juga menjadi pemicu terjadinya carok pada proses pilkades di Madura.

Sebagai Panitia Pemilihan Kepala Desa atau yang biasa disingkat P2KD haruslah menjalankan tugasnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, jangan sampai main mata dengan calon kades tertentu yang merugikan calon yang lainnya.

Seperti membuat kebijakan atau memberi informasi penting pada calon tertentu. Seperti memberikan surat suara yang lebih pada calon tertentu untuk digunakan mencoblos, dan lain sebagainya.

3. Orang Yang Mata Duitan

Penyebab carok pada pilkades selanjutnya adanya masyarakat yang mata duitan. Memang secara hukum adanya politik uang sangatlah dilarang hanya saja masih banyak praktik tersebut yang masih ada, dan sampai sekarang masih menjadi rahasia umum.

Hal itu biasanya dimanfaatkan oleh orang untuk meminta calon tertentu untuk membeli suara masyarakat disekitarnya dan siap menanggu suara di daerah tertentu setelah uang di dapat suara kepada calon tersebut tidak ada.

Sebenarnya masih banyak penyebab lainnya yang harus dihindari supaya tidak terjadi carok pada proses pilkades. Buat apa kita mempertaruhkan nyawa hanya karena jabatan kecil seperti kepala desa.

Jika ingin berkompetisi silahkan;ah berkompetisi namun ingat menang pilkades dengan cara yang sehat adalah bentuk jika anda adalah kepala desa hebat.