Cara Menangkal Kebangkrutan Usaha Warung Makan

Cara Menangkal Kebangkrutan Usaha

Cara menangkal kebangkrutan Usaha - Untuk bertahan dengan baik, usaha warung makan harus selalu mendapat tamu di atas jumlah yang kita rencanakan. Dalam contoh tulisan ini adalah 25 orang per hari. Hal itu sebaiknya selalu diupayakan, dan agar setiap tamu membelanjakan uangnya tidak kurang dari Rp4.000,00 sebagaimana yang anda rencanakan. 

Untuk menangkal kebangkrutan usaha Kita harus mengetahui kondisi warung antara lain dari data yang setiap hari dikumpulkan. Data itu harus selalu mendapat perhatian. Tercapai atau tidak, kita dapat membacanya secara rutin. 

Jangan sampai melihatnya tatkala kita sedang mengalami masalah saja. Fluktuasi data sebenarnya sudah dapat memberikan gambaran kondisi yang mungkin terjadi. Teruslah mencoba cara menangkal kebangrutan usaha dengan selalu melihat data yang ada.


Apabila kita dapat mencapai, bahkan melebihi jumlah tamu dan rata- rata belanja tamu seperti di atas, maka setiap bulan kita akan memperoleh keuntungan.


Dengan kelebihan ini, banyak para wirausahawan menjadi lengah dan teledor mengelolanya sehingga berakibat fatal. Warung makan tiba-tiba kesulitan lalu berakhir pada kebangkrutan usaha, yang sebenarnya tidak perlu terjadi. 


Dalam kondisi tersebut di atas, kebangkrutan dapat terjadi akibat kesalahan pengelolaan keuangan, apalagi jika uang yang ada semua dijadikan satu, tidak dipilah-pilah sebagaimana mestinya.


Dengan penyimpanan uang menjadi satu tempat, jelas akan terlihat banyak, dan wirausahawan bisa terpancing untuk mengambilnya baik untuk mengembangkan usaha atau untuk urusan lainnya. 


Penyimpanan uang yang baik haruslah dipisah sesuai dengan pos atau sumber penggunaannya. Sediakan beberapa amplop (ubah menjadi rekening bank jika usaha telah berkembang lebih lanjut), minimal lima amplop



Amplop A Pendapatan
Amplop A
Bahan Baku
Amplop C
Oprasional
Amplop D
Penyusutan
Amplop E
Ketuntungan Bersih

Keterangan: 

1. Amplop A untuk menyimpan semua hasil penjualan. 

2. Amplop B untuk menyimpan modal pembelian bahan baku. 3. Amplop C untuk menyimpan/menyiapkan biaya operasional (gaji, telepon, dll). 

4. Amplop D untuk menyimpan/menyisihkan pengembalian modal (penyusutan) semua uang yang pernah kita keluarkan di awal mulainya usaha. 

5. Amplop E untuk menyimpan sisa hasil atau keuntungan yang 

diperoleh. 


Pada sore hari setelah selesai berjualan, dari amplop A segera dibagi untuk mengisi amplop-amplop lain. 


Isi amplop B dengan sejumlah uang (kurang lebih 50%) hasil penjualan) atau sebesar yang diambil untuk belanja pagi hari tadi. Begitu setiap hari setelah selesai berjualan, isi lagi sejumlah yang dikeluarkan untuk belanja. 


Kelebihan uang sisa belanja untuk mengisi amplop B, isikan ke amplop C sejumlah 35% hasil penjualan atau semua sisanya jika tidak sampai 

35%. 


Apabila setelah mengisi amplop C. masih terdapat sisa uang, isikan ke amplop D sebesar nilai penyusutan usaha (dalam hal ini kurang lebih Rp7.200.000,00 dibagi 12 x 30 = Rp20.000,00. Jumlah ini untuk menabung pengembalian semua modal yang telah dikeluarkan sebelumnya. 


Semua sisa uang yang telah dipakai untuk mengisi keempat amplop A, B, C, D masukkan ke amplop E. Inilah keuntungan bersih usaha warung makan kita. 


Apabila dalam perjalanannya ternyata tidak ada uang untuk membayar gaji (yang seharusnya mengambil dari amplop atau rekening C) karena amplop atau rekening C kosong, dan terpaksa harus mengambil dari amplop lain kita sudah mendapat sinyal untuk segera memperbaikinya. Tanpa adanya pemisahan amplop seperti ini, tidak akan pernah ada sinyal untuk memperbaiki usaha, tahu-tahu usaha kita sekarat dan akhirnya bangkrut. 


Dengan sistem pemisahan keuangan yang kita bangun seperti tersebut di atas, kita hanya boleh mengembangkan cabang hanya apabila uang di amplop atau rekening E mencukupi. Jika tidak kita harus mencari pinjaman. 


Demikian pula membuka cabang dengan uang yang ada di amplop atau rekening D, berarti hanya akan memindahkan usaha yang ada ke tempat yang baru, bukan membuka cabang baru.


Karena bila diperlukan dana/ uang untuk membeli alat untuk mengganti alat yang rusak (peremajaan peralatan), uang sudah habis untuk membuka cabang. Dengan kondisi ini, cabang baru belum tentu berjalan, sedangkan usaha awal macet karena peralatan banyak yang rusak karena usang. 


Kondisi semakin parah apabila amplop E, D, dan C telah kosong dan untuk menggaji dan membayar tagihan rutin seperti listrik sudah harus mengambil dari amplop B. Kondisi ini harus segera dihitung ulang atau 

menutup usaha. 


Apabila kita dengan tertib dan disiplin mampu mengelola keuangan kita seperti tersebut di atas, dan mengubah semua jenis amplop menjadi rekening dalam bank, niscaya usaha kita akan berjalan dengan baik.