Jangan Pesimis Dalam Hidup, Tetaplah Optimis

Jangan Pesimis Dalam Hidup

Jangan Pesimis dalam Hidup karena orang pesimis hanya melahirkan kegagalan yang sangat nyata. Ketika kita pesimis maka kita semakin memperbesar peluang gagal datang pada kita.

Hari ini saya sedang membuka buku yang pernah saya tulis pada tahun 2019, buku tersebut berjudul the power of self potential. Dalam buku tersebut saya menemukan sebuah nasehat yang sangat penting yakni tentang jangan pesimis dalam hidup.

Tulisan jangan pesimis dalam hidup ini tiba-tiba tertarik untuk saya bagikan pada anda. Adapun tulisannya sebagai berikut:

***

“Orang Optimis selalu melihat peluang di setiap masalah, sedangkan orang yang pesimis selalu melihat masalah di setiap peluang”

Setiap hari saya melihat adik saya yang nomor tiga belajar dengan sangat rajin, hal itu merupakan pemandangan baru bagi saya, mengingat dirinya yang selama ini tidak pernah membuka buku pelajarannya. 

Dihantui rasa ingin tahu, saya bertanya kepadanya, kemudian ia menjelaskan bahwa sebentar lagi akan ada penggelaran lomba khusus siswa kelas 4, 5 dan 6 di sekolahnya. Dari cara adik saya belajar nampaknya yang akan ia ikuti adalah lomba pidato, dari dia berbicara sambil lalu menggerakkan tangan layaknya da’i profesional. 

Di kemudian hari sampailah pada perlombaan tersebut.. Kebetulan saya tidak bisa menghadirinya karena ada kegiatan di kampus. Beberapa hari kemudian saya bertanya pada keluarga terkait hasil lomba yang diikuti adik saya. sungguh jawabannya sangat mengejutkan, ternyata ia tidak jadi ikut lomba, karena rasa malu dan ketidakyakinannya akan menjuarai lomba itu. 

Keputusan yang diambil oleh adik saya merupakan implementasi dari rasa pesimis yang akhirnya membuat dia gagal mengikuti perlombaan dan tentu saja ia juga gagal memiliki pengalaman baru yang sangat berkualitas. 

Tentu hal tersebut tidak hanya terjadi pada adik saya saja, bahkan anda pun pasti pernah mengalaminya. Anda belajar sungguh-sungguh lalu anda merasa jika kualitas anda jauh di bawah teman anda akhirnya anda menghentikan pelajarannya. 

Kemudian anda meyakini jika nilai dan kualitas anda tidak mungkin sama apalagi melebihi mereka. Sadarkah anda jika diri anda sedang dihantui rasa pesimis?

Adam Khoo merupakan trainer dan motivator termuda di Singapura, di usia mudanya iya berhasil memiliki pendapatan yang sangat melimpah, berkat bisnis training dan seminar. 

Ia memiliki klien-klien para manajer dan top manajer di sebuah perusahaan di singapura. Bayaran yang diterimanya mencapai 10.000 dolar per jam. Dan pada usia 26 tahun ia memiliki empat bisnis dengan total pendapatan sekitar 20 juta dolar AS. Bagaimanakah kehidupan masa kecilnya?

Siapa sangka, ternyata Adam Khoo di masa anak-anak dicap sebagai siswa bodoh. Kesehariannya di habiskan dengan menonton TV dan main game. 

Karena kebodohannya ia ditolak oleh enam Sekolah SMP terbaik, kondisi ini memaksa ia harus duduk dibangku SMP terburuk di singapura. 

Meski sudah duduk di bangku sekolah yang tingkatnya lebih tinggi ia tidak menghilangkan kebiasaan buruknya yakni main game dan nonton TV hingga lupa waktu. Alhasil ia mendapat peringkat 10 terburuk di SMA nya tersebut.

Hingga suatu ketika ia mulai sadar dengan kondisinya, cap bodoh yang diberikan teman-temannya mulai ia buang dengan keyakinan yang benar, ia merasa jika dirinya adalah orang yang cerdas. 

Berkat keyakinannya ia merubah segala aktivitasnya menjadi lebih baik dan lebih optimis memandang masa depannya. 

Alhasil ia mendapat gelar sebagai siswa terbaik, bahkan iya masuk sekolah di SMA terbaik dengan kelulusan terbaik, dan ia juga kuliah di Universitas terbaik di Singapura juga dengan prestasi yang baik. 

Tahukah anda apa kunci kesuksesan Adam Khoo? Dia mampu merubah pola pikir yang pesimis menjadi lebih optimis “Jika orang lain bisa dapat nilai A, saya pun juga bisa!” begitulah yang di tanam dalam diri seorang Adam Khoo.

Kisah selanjutnya datang dari teman dekat saya. Tepatnya di saat kita sedang mendaftar kuliah di salah satu kampus terbaik di daerah kita. Ia sangat optimis jika akan diterima masuk Universitas yang ia impikan tersebut. 

Bermodal optimis ia mulai mendaftar dan mengikuti beberapa seleksi masuk perguruan tinggi. Hasil, seleksi pertama ia tidak lolos, kegagalan pertama membuat ia semakin tertantang untuk mendaftar seleksi tahap kedua. 

Namun, sungguh disayangkan, keberuntungan tidak berpihak pada teman saya kala itu. Namun, ia berkata pada saya “apapun yang terjadi saya akan berjuang masuk kampus itu” ia kemudian mencoba tahap terakhir, berkat izin Allah dia diterima masuk universitas yang telah lama kita impikan. Itulah bukti jika optimis akan mendorong kita untuk terus berjuang dan belajar dari kegagalan yang pernah didapatnya, sedangkan orang yang pesimis akan sibuk memikirkan kegagalan pada sesuatu yang belum ia perjuangannya.

Orang yang pesimis sangatlah pandai mencari alasan. Kalau diajak untuk membuka usaha dia selalu berkata “Nampaknya pekerjaan ini terlalu sulit alangkah lebih baiknya jika kita mencari yang lain yang lebih sederhana, apalagi saya sangat sibuk dengan pekerjaan ini dan itu”.

 Bermitra dengan orang pesimis hanya akan menghabiskan waktu kita saja. Bagaimana kita akan bergerak maju jika mereka tidak yakin bahwa dirinya akan maju dan berkembang menjadi lebih baik?

Seperti yang pernah saya alami saat kuliah. Suatu ketika disalah satu kampus di daerah Yogyakarta menyelenggarakan lomba debat hukum bertaraf nasional, hal itu membuat salah satu dosen yang mengampu mata kuliah kita, menginginkan mahasiswanya berpartisipasi di perlombaan tersebut. 

Kebetulan saat itu saya ditunjuk untuk mencari teman yang bisa diajak untuk mengikutinya. Saat itu mulai terbayang beberapa nama yang menurut saya sangat layak untuk mewakili kampus di kejuaraan lomba itu. 

Saya kemudian menemui salah satu sahabat yang saya nilai sangat pandai dan memiliki vokal bicara yang baik. Dan sungguh mengejutkan jawaban yang dilontarkan, “Wah, acaranya bagus sih, tapi ini terlalu mepet, selain itu, kita juga belum ada persiapan, kalau saya bukannya gak mau ikut, tapi saya takut malu-maluin kampus kita” ujarnya seolah meyakini kebenaran menurut dirinya.  

Mendengarkan itu saya coba menasehatinya dengan mengatakan “Aku mengajakmu ikut ini karena aku tahu kemampuanmu, aku tahu tehnik bicaramu, dan waktunya kurang setengah bulan lagi, insya Allah kita bisa mempersiapkannya dengan baik. Bagaimana?”.

Sungguh usaha saya gagal, dia begitu kokoh dengan pendiriannya, bahkan melontarkan alasan-alasan yang hanya mengecilkan dirinya. Alhasil kita tidak jadi berangkat. Lomba itu hanya menjadi angan-angan belaka bagi kita.

Jika kita tidak yakin dengan kemampuan kita, kita pesimis dengan masa depan kita, mungkinkah kita akan menjadi orang besar? Tidak ada ceritanya orang besar berangkat dari rasa pesimis, orang hebat selalu berfikir BISA di saat yang lain berfikir mustahil dilakukan. 

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley, Ph.D. dalam bukunya The Millionaire Mind Dia memaparkan Hampir semua miliarder menunjukkan bahwa kunci utama kesuksesan mereka dan kemampuan mereka dalam mengatasi ketakutan adalah Keyakinan mereka pada diri sendiri.

Keyakinan pada diri sendiri akan melahirkan rasa optimis  menjalani hidup. Orang besar telah membuktikannya dengan optimis mereka mampu menjadi terkenal dan menginspirasi banyak orang. Jika kita sadar, optimis mampu mendatangkan kebaikan. 

Kenapa kita masih sibuk dengan rasa pesimis? Bukankah Pesimis akan membendung masa depan kita? Pesimis akan menjadi bumerang bagi karir kita? Pesimis akan menjadi batu penghalang bagi prestasi kita? 

Jika anda hari ini sedang dilanda oleh rasa tidak yakin dengan masa depan yang sudah anda impikan, saatnya anda buang rasa pesimis yang ada pada pikiran anda, lalu menggantinya dengan rasa optimis. Dengan optimis masa depan anda lebih menjanjikan.