Pentingnya Kuliah Untuk Membahagiakan Orang tua

Kuliah untuk membahagiakan ortu - Alasan paling dominan yang dimiliki oleh para mahasiswa kenapa mereka kuliah adalah mereka ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Apakah anda termasuk salah satunya? Saya yakin jawabannya iya.

Sejatinya kita tidak memiliki alasan untuk tidak membahagiakan orang tua kita. Kenapa demikian? 

Karena berkat beliaulah kita bisa seperti sekarang ini. Coba anda bayangkan seandainya tidak ada kasih sayang kedua orang tua kita, mungkinkah kita akan menghirup udara ini? Mungkinkah kita bisa kuliah seperti sekarang ini bisa lulus sekolah dan kuliah? 

Orang tua merupakan sosok yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan kita, mereka adalah matahari yang datang di saat kegelapan hati sedang melanda. Olehkarenya Jadikan kuliah sebagai usaha untuk membahagiakan ortu kita.

Coba anda renungkan, seperti apa pengorbanan yang mereka berikan kepada kita? Sembilan bulan kita berada di dalam perut ibu kita dan di saat itu, coba anda ingat betapa bangganya ayah kita, bukan hal yang jarang beliau mengusap perut ibu sembari berdoa, semoga kita dijadikan anak yang shaleh ataupun shalehah. 

Dan coba anda bayangkan rasa sakit ibu kita di saat akan melahirkan kita, berapa banyak daging yang robek? 

Bukankah saat itu hanya nyawa taruhannya? Coba anda ingat, bagaimana cara ibu melindungi kita dari gigitan nyamuk saat kita kecil dulu?

Renungan Untuk Membahagiakan Orang Tua

Kuliah Untuk Membahagiakan Orang tua
 Kuliah Untuk Membahagiakan Orang tua

 Sungguh pengorbanan yang tidak ada habisnya, mereka setiap pagi menyiapkan makanan dan pakaian sekolah kita, kemudian menyisir rambut kita, bahkan mereka juga mengantarkan kita ke tempat sekolah, coba kita ingat, bagaimana ayah kita mencari nafkah demi membiayai sekolah bahkan kuliah kita sekarang? 

Dari sekian besar pengorbanan beliau kepada kita, lantas salahkah jika mereka berharap kita menjadi anak yang berbakti kepadanya? 

Salahkah jika beliau berharap kita menjadi anak yang berprestasi di  tempat kita kuliah? Tapi yang jelas orang tua kita tidak akan menuntut hal itu, karena mereka takut membebani kuliah kita, tapi jika kita peka, kita akan mampu membacanya dari cara orang tua memperhatikan kita, memperhatikan kondisi keuangan kita dan hal lain yang kita butuhkan saat kuliah.

Wahai para pejuang muda, sudahkah kita membalas jasa-jasa beliau? Pernahkah kita membuatnya tersenyum bangga pada kita? Pernahkah kita mewujudkan impian terbesar keluarga kita? 

Atau malah sebaliknya, anda hanya sibuk membuatnya menangis, anda sibuk menggores luka di hatinya, dan anda sibuk menjadi rentenir yang selalu memaksa beliau untuk mengirimkan uang kepada anda.

Pernahkah anda berfikir kondisi keuangan orang tua anda, jika anda tahu, beliau rela kerja mati-matian demi membiayaimu di kampus, bukan tak jarang beliau mencari hutangan pada tetangganya demi kelancaran kuliahmu.

Coba anda ingat, kapan terakhir kali anda berbicara kepadanya? Apa yang anda bicarakan? 

Apakah anda berbicara “Bu, Ayah. Uangku sudah habis, kapan bisa dikirim?” jika benar demikian maka berjuanglah merubah bahasa itu menjadi, “Ibu, Ayah. Apakah uang yang kemarin saya kirim masih ada? 

Jika sudah habis Insyaa Allah akan saya transfer sekarang.” Bayangkan, betapa bangganya mereka memiliki anak seperti kita. Dan coba anda bayangkan, bagaimana keluh kesah mereka saat kita hanya menjadi beban keluarga?  

Cerita Perjuangan Orang Tua Untuk Menguliahkan anaknya

Perjuangan orang tua menguliahkan anaknya

Suatu ketika saya sedang pulang kerumah, kebetulan saat itu ada sepasang suami istri yang berkunjung ke tetangga. Melihat fisiknya yang sudah tidak muda lagi membuat saya penasaran, apa maksud kedatangan beliau? 

Selang beberapa waktu, beliau menghampiri orang tua saya yang kebetulan sedang duduk di samping saya, dengan nada lesu mereka menyapa 

“Wes, cukup anak saya yang satu ini yang kuliah, yang lain biar kerja saja” kemudian ibu saya bertanya, “Lo, kenapa begitu Bak?” 

dengan nada murung ia menjawab, “Ini lo, anak saya yang kuliah, kerjaannya minta uang terus, mana uang semesteran, mana uang sehari-harinya dan lain lagi uang untuk bayar kos. 

Kalau seperti ini terus kayaknya saya tidak mampu deh, membiayai kuliahnya, untung barusan ada yang ngasih pinjaman” mendengar hal itu, Ibu saya mencoba menghibur, 

“Wes mau gimana lagi, sudah resiko kita sebagai orang tua, Insya Allah, nanti kalau mereka berhasil kita juga yang bangga, bukan?” 

Setelah mereka berbicara panjang lebar, kemudian kedua pasangan suami istri itu pamit pulang. 

Mungkin pasangan suami istri itu merupakan representasi dari orang tua kita di rumah, darinya kita bisa belajar, bahwasannya tidak ada alasan untuk tidak membuat beliau bangga karena telah menguliahkan kita.

Kuliah Sebagai Jalan Menggapai Ridho Orang Tua

Menyentuh tangan ortu

Mengingat merekalah jalan yang kita miliki untuk meraih ridho Allah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: Dari Abdullah bin Umar r.a berkata, Rasulullah bersabda: 

“Keridhoan Allah itu di dalam keridhoan orang tua dan kemurkaan Allah di dalam kemurkaan orang tua.” (HR. al-Tirmidzi)

Dalam hadits ini, kita tidak hanya dihimbau untuk berbakti kepada kedua orang tua melainkan juga kita mendapat seruan supaya berupaya untuk mendapatkan kerelaan hati dari kedua orang tua kita. 

Allah tidak akan rela kepada kita jika orang tua kita tidak merelakannya. Dan Allah akan marah kepada kita jika kita membuat orang tua kita marah.  Oleh karenanya berbaktilah kepadanya dan bersiaplah untuk membahagiakannya.

Seperti apapun baktimu kepada kedua orang tua, sungguah bakti itu tidak akan pernah membalaskan perjuangan dan kasih sayang keduanya. 

Sebesar apapun rumah yang anda bangun untuk mereka, sebagus apapun mobil yang anda beri kepada mereka, sebanyak apapun uang yang anda kasih pada mereka. 

Hal itu tidak akan cukup membayar kasih dan pengorbanan kedua orang tua anda. Meski demikian teruslah berjuang untuk membanggakannya, karena merekalah salah satu pintu surga yang kita miliki.

Cerita Uwais Al-Qarni Pemuda Yang dicintai Rasulullah

Uwais Al- Qarni menggendong ibu sampai ke makah

Suatu ketika di kota Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni, ia memiliki penyakit sopak yang membuat tubuhnya belang-belang. 

Meski demikian ia merupakan pemuda yang istimewa di mata Rasulullah, hal itu dikarenakan oleh baktinya kepada orang tua yang kebetulan sedang lumpuh. Apapun Uwais Al Qarni lakukan demi membuat bangga ibunya. 

Dan kebetulan hanya satu permintaan ibunya yang belum ia kerjakan yakni, memberangkatkan ibunya pergi haji. 

Di kondisi yang fakir tentu sangat sulit untuk memenuhi permintaan ibunya tersebut. Namun baktinya pada ibu membuat Uwais Al Qarni putar otak.

Akhirnya ia membeli anak lembu, dan setiap hati ia menggendong anak lembu itu naik turun bukit, pada waktu itu orang yaman mengira jika Uwais Al Qarni sudah gila, tapi setelah badannya mulai semakin kuat maka saat itu orang-orang faham jika Uwais Al Qarni melakukan itu sebagai latihan untuk menggendong ibunya pergi haji. 

Setelah delapan bulan berlalu, tibalah pada musim haji. Uwais Al Qarni dengan gagah menggendong ibunya dari Yaman ke Mekkah, setiba disana ibunya menangis karena melihat Baitullah. Dan di saat melakukan wukuf  keduanya berdoa 

“Ya Allah ampunilah dosa ibuku,” kata Uwais

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang ibu

Uwais menjawab, “Dengan terampuni dosa ibu, ibu akan masuk surga, dan cukup ridha ibu yang menolongku ke surga”

Begitulah ketulusan cinta dan pengorbanan seorang Uwais kepada ibunya. Berkat hal itu penyakit yang diderita Uwais diangkat oleh Allah, dan hanya tersisa di telapak tangannya yang berwarna putih. 

Hal itu menjadi tanda pengenal bagi Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib yang sempat menerima pesan dari Rasulullah, “Di zaman kamu nanti akan akan ada seorang manusia yang doanya sangat makbul, dia akan datang dari Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”

Hingga di suatu waktu Uwais pergi ke Madinah untuk menemui Rasulullah, namun sayangnya pada saat itu Rasulullah sedang pergi berperang, yang ia temui saat itu hanyalah Siti Aisyah r.a. 

Di saat itu hati Uwais dilema antara menunggu Nabi Muhammad dengan pulang kerumah. Setelah Uwais mengingat pesan ibunya yang sedang sakit, bahwasannya Uwais disuruh segera pulang, maka tanpa ragu Uwais Pun melangkahkan kakinya untuk pulang dan hanya menitipkan salam pada Rasulullah. 

Selesai perang Rasulullah pulang dan bertanya kepada Siti Aisyah tentang pemuda yang mencarinya, beliau mengatakan bahwasannya Uwais merupakan anak langit.

 Mendengar hal itu Siti Aisyah r.a. dan para sahabat tertegun, dan Siti Aisyah menjelaskan bahwasannya kepulang Uwais dikarenakan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan sehingga tidak bisa ditinggalkan terlalu lama, mendengar hal itu Rasulullah melanjutkan keterangannya tentang Uwais pada para sahabatnya, “kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah, dia memiliki tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Setelah itu Nabi memandang pada sahabatnya seraya berkata, “Suatu ketika jika kalian bertemu dengannya mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit bukan bumi. 

Hingga pada Akhirnya di masa pemerintahan Umar bin Khaththab, Uwais Al Qarni menjadi orang yang dicari oleh Khalifah dan Ali bin Abi Thalib untuk dimintai doa dan Istighfar.

Wahai pejuang muda, dari kisah tersebut kita dapat memetik hikmah bahwasannya kecintaan dan pengorbanan Uwais Al Qarni untuk membahagiakan ibu membuatnya dijamin surga oleh Rasulullah. Lantas masih ragukah kita?

Oleh karena mulai detik ini kita buktikan kepada kedua orang tua kita bahwasannya mereka tidak salah telah membesarkan kita, mereka tidak keliru telah membiayai kuliah kita. 

Sungguh tidak ada balasan yang setimpal atas keringat kedua orang tua kita selain prestasi dan bakti kita kepada keduanya. Bahagiakan mereka maka hidupmu akan bahagia.

Oleh karenanya buatlah kuliah anda sebagai bentuk usaha untuk membahagiakan kedua orang tua anda.